Menjadi Seorang Cendekiawan yang Merdeka…


Bismillah

                Terkait dengan memperingati hari kebangkitan nasional 20 mei. Masih banyak evaluasi yang perlu diperhatikah hingga kita benar benar memperingati hari kebangkitan nasional dengan sebenar benarnya kemerdekaan. kita sebagai seorang mahasiswa yang didaulat sebagai agen perubahan dan ujung tombak perubahan tentunya harus memiliki kontribusi yang besar untuk bangsa ini. Tetapi jika dikritisi lebih awal maka ada baiknya jika kita sebagai mahasiswa tertanamkan lebih awal untuk menjadi agen perubahan diri sendiri. Maka dalam tulisan kali ini kita harus bercermin hingga pada tingkat kata “ saya”.

Terkait dengan kata “saya” maka sebelum saya memberikan gagasan yang sangat luas akan lebih baiknya jika dalam tulisan kali ini saya akan memberikan gagasan dalam lingkup pribadi saya. Saya selalu teringat kalimat terukir di atas batu nisan Westminster Abbey, salah seorang arsitek kerajaan Inggris yang sangat terkenal di zamannya. Di atas makam tersebut tertulis beberapa patah kata sebagai berikut.

“Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia agar menjadi lebih baik. Lalu, seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tiada pernah menjadi lebih baik.

Maka, cita-cita itu pun agak kupersempit. Lalu, kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku sendiri. Namun tampaknya hasrat itu tiada membawa hasil.

Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, lalu kuputuskan untuk hanya mengubah keluargaku sendiri. Yakni orang-orang yang paling dekat denganku. Namun celakanya, mereka pun ternyata tidak mau berubah!

Dan hari ini sementara aku berbaring untuk menanti datangnya ajalku. Tiba-tiba saja kusadari, seandainya saja dulu aku berpikir bahwa yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri. Dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku akan bisa mengubah keluargaku terlebih dahulu. Lalu, berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi aku akan mampu memperbaiki negeriku. Kemudian, siapa tahu dengan begitu aku bahkan bisa mengubah potret dunia ini!”.

Kalimat-kalimat diatas sangat membekas di hati saya hingga saya sampai pada paradigma bahwa untuk merubah suatu bangsa maka saya harus merubah diri sendiri, membentuk diri hingga bisa menjadi wadah perubahan dengan tentunya wadah itupun harus selalu di upgrade dan diperbesar. Kemudian pemikiran inipun telah ada di dalam islam dimana kita bisa mendapatkan seruan untuk memperbaiki niat, berbagai ajaran mengenai akhlaq, menyeru kebaikan kepada orang terdekat, hingga memuliakan tetangga. Oleh karena, karena sekarang saya seorang mahasiswa. Maka, haruslah saya menjadi seorang mahasiswa yang pandai di bidang kajiannya yaitu bidang perencanaan wilayah dan kota. Sebagai seorang mahasiswa maka saya haruslah lebih menonjolkan intelektual saya baik itu bisa diaplikasikan dalam bentuk pemikiran tertulis ataupun riset-riset. Akan tetapi sayapun melihat suatu kekurangan yang ada dari konsepsi yang demikian. Kekurangan itu haruslah ditambal atau diperkuat dengan kemampuan finasial ataupun jiwa kewirausahaan yang tentunya akan memberikan dampak rasa merdeka dari jajahan finasial yang sering membelenggu baik itu mahasiswa, seorang peneliti, atapun bahkan pejabat. Kedua hal ini harus dikembangkan baik sisi intelektual maupun wirausaha karena banyak terjadi seorang mahasiswa muslim yang memiliki intelektual yang tinggi (Cendekiawan) akan tetapi ia terjajahkan oleh kemampuan finasial yang tergantung dari suatu perusahaan atau negara yang membiayai penelitian/ risetnya. Bahkan penjajahan intelektual ini berekspansi hingga membentuk suatu paradigma yang membelenggu pemikiran berbagai mahasiswa yang mana jika mereka lulus mereka akan berlomba lomba menjadi pegawai dari perusahaan multi-nasional, memperkaya diri, dan tanpa adanya rasa need for achievment untuk bangsa indonesia.

Saya selalu berusaha menggabungkan kedua hal tersebut di posisi saya sebagai seorang mahasiswa. Saya membuat suatu asumsi bahwa dengan adanya jiwa wirausaha ataupun berwirausaha dengan penghasilan kecil kecilan akan membuat pikiran kita merdeka dari segala bentuk beban paska kampus nanti yang biasa terbesit untuk berpikir “ bagaimanakah saya harus memperkaya diri dulu?” yang secara tidak langsung menjajah idealisme kita. Kemudian jiwa wirausaha yang saya kembangkan juga saya padukan dengan jiwa intelektual muda saya yang kritis akan suatu permasalahan, fenomena, ataupun suatu hal yang berkaitan dengan studi saya. Karena saya berpikir bahwa studi saya, intelektual saya akan menopang karier saya. Seorang yang berilmu akan mulia dan ilmu yang akan menjaga idealisme kita. Sehingga saya mengambil satu kesimpulan besar bahwa saya harus menjadi seorang cendekiawan yang merdeka. Merdeka dalam arti dasar finasial, merdeka dalam arti memiliki idealisme yang bisa dijadikan realita.

Terkait dengan bangsa. Saya memiliki cita-cita untuk membangun bangsa indonesia. Saya memiliki mimpi-mimpi besar untuk membangun bangsa indonesia. Saya memiliki keinginan untuk menjadi seorang cendekiawan yang besar seperti bapak B.J Habibie, bukan saya ingin mencontohnya akan tetapi saya ingin disejajarkan dengan beliau sebagai salah seorang cendekiawan, yang aktif dalam membangun bangsa indonesia. Bangsa indonesia tidak hanya membutuhkan satu B.J. Habibie. Bangsa indonesia belum akan cukup bangkit dengan hanya saya sajalah yang memiliki pemikiran yang demikian. Karena bangsa indonesia butuh dukungan seluruh bangsa indonesia yang telah mengalami loncatan (kuantum) pemikiran dan karakter yang baik.

Iklan

Perihal At-Thulab
simple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: