Kenapa Kita Harus Mengorbankan Kehormatan Kita?


Bismillah

Pernah telintas dibenak anda bahwa ada dibelahan bumi lain hidup seorang gelandangan yang mengembalikan uang temuan yang berjumlah $ 3.300 kepada pemiliknya tanpa mengambil uang tersebut sepersenpun sedangkan dirinya dalam kondisi sudah tidak memiliki uang sepersenpun pula. Kemudian yang terjadi, atas kejujurannya dewan kota sekitar membuatkan rekening untuk menampung sumbangan seluruh warga kota yang sangat salut pada kejujurannya hingga terkumpul jumlah yang tidak disangka sangka $ 8.000 atau dua kali lipat dari uang yang ditemukannya, belum sampai disitu warga kota sekitar menawarkan pekerjaan pada dirinya dan bahkan hari ia menemukan uang temuannya oleh walikota setempat ditetapkan sebagai hari Dave Tally sesuai dengan nama gelandangan itu. Dari peristiwa diatas bisa kita lihat bahwa betapa beruntungnya orang orang yang berlaku jujur dalam setiap tindakannya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW : “Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta”. Kejujuran jangan hanya dilihat dalam artian sempit yaitu mengatakan hal yang sebenarnya tetapi kejujuran adalah sesuatu yang sangat luas maknanya. Siapakah yang jujur dialah yang beruntung. Dave Tally telah lulus melewati ujian kejujuran hidup hingga ia mendapatkan penghargaan dari kelulusannya ujiannya.

Berbicara tentang ujian maka setiap insan akan berfikir pada suatu bagian dari cobaan hidup yang harus dilewati dengan baik. Ujian yang paling familiar dengan kita adalah ujian yang sifatnya akademik. Sekarang marilah kembali kita berhitung sudah berapa kalikah kita mengikuti ujian akademik mulai dari SD Hingga Perguruan Tinggi selalu ada ujiannya dan mengapa setiap dari kita selalu saja merasa tidak siap menghadapinya hingga kita sering melakukan kecurangan-kecurangan dalam ujian. apakah masih kurang pengalaman kita dalam menghadapi ujian hingga setiap dari kita kehilangan kehormatan hanya untuk memenuhi kata “ bisa mengerjakan ujian” dengan cara cara yang tidak diperkenankan?. Tidakkah kita menginginkan hasil kemampuan kita sendiri dalam ujian hingga setiap jiwa kita merasakan kepuasan tersendiri yang yakin melebihi kepuasan ketika kita mengerjakan ujian dengan menggunakan jalan pintas kecurangan. Tidakkah kita merasakan perasaan was-was hingga ragu ragu dalam mengisi jawaban ujian walaupun itu berdasarkan penuturan dari teman kita atau hasil dari contekan kita. Siapa tahu jawaban yang kita dapatkan dari hasil mencontek ataupun dari hasil kerja sama dengan teman kita itu salah. Tentu akan lebih menyesal lagi bukan.

Dalam menghadapi ujian terkandung banyak nilai nilai yang akan membentuk karakter kita. Tahukah anda bahwa dalam menghadapi ujian kita dilatih untuk bekerja keras. Seumpama dua kupu-kupu yang baru menetas dari kepompongnya, salah satunya bersusah payah terlebih dahulu tanpa dibantu oleh kawanannya ataupun hewan lain untuk keluar dari kepompongnya hingga ia bisa keluar dari kepompongnya dengan sayap yang indah lagi kuat serta bisa terbang dengan anggunnya. Sedangkan yang satunya ia dibantu oleh seorang ilmuwan untuk keluar dari kepompongnya. Ilmuwan itu merobek kepompong kupu-kupu itu hingga kupu kupu itu dapat keluar dengan seutuhnya dari kepompongnya tetapi apakah yang terjadi?, kupu-kupu itu tidak bisa terbang karena otot sayapnya tidak terbentuk sempurnya hingga ia hanya berjalan dari satu daun ke daun yang lain dan kemudian mati dimakan oleh tokek. Kenapa kita harus mengorbankan kehormatan kita hanya untuk melakukan kecurangan dalam ujian. lihatlah seseorang yang jujur dalam melaksanakan ujian kemudian dalam ujiannya ia mendapatkan nilai yang lumayan bagus tentunya orang tersebut akan puas dengan nilainya sendiri syukur jika mendapatkan hasil yang maksimal tentu andapun akan merasakan hal yang sama bukan?. Berbeda dengan orang yang curang dalam melaksanakan ujiannya, untung jika tidak ketahuan oleh pengawas tetapi jika ketahuan bukan hanya nilai kita yang akan diputuskan buruk akan tetapi pandangan kepada kita juga akan identik dengan kecurangan. Bukankah anda masih mengingat peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tetapi ingatlah wahai kawan bahwa melaksanakan ujian tanpa kecurangan adalah salah satu dari sekian banyak sikap jujur. Dan ingatlah wahai kawan bahwa sebenarnya sikap jujur adalah salah satu sikap terpuji yang akan mendapatkan balasan yang sangat besar. Ingatlah kembali sikap jujur dari seorang gelandangan yang menjadi kaya mendadak karena sikap jujurnya. Jangan sampai kita kalah atau bahkan lebih hina dari seorang gelandangan.

JUJUR

JUJUR

 

Ketika hati ingin jujur tetapi jiwa ini terbelenggu…

ketika hati ini ingin berbicara tetapi mulut ini selalu terdiam ketika…

ketika adzan subuh berkumandang 1432 H, 11 Muharram

Iklan

Perihal At-Thulab
simple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: