PEMIMPIN DI TENGAH KEBERAGAMAN INDONESIA


Bismillah

Maha Suci Allah yang telah menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi, dan betapa bodoh dan dzalimnya manusia yang menerima amanah senyata dan sebesar ini.

Sejak diturunkannya Adam di tempat yang sekarang kita sebut bumi, sejak itulah muncul suatu peran dari manusia sebagai seorang khalifah dimuka bumi yang nantinya akan bertransformasi dengan keberagaman makna hingga tercipta kata pemimpin sejak anak keturunannya Adam telah bertebaran dimuka bumi dalam bentuk koloni koloni dan berbagai ras. Pada awalnya seorang pemimpin hanya berfungsi sebagai seorang yang memiliki status tertinggi dalam stratifikasi sosial, seorang panglima perang tertinggi, dan perwujudan wakil tuhan (kepercayaan setempat). Seiring dengan berjalannya waktu peran seorang pemimpin semakin kompleks. Muncul pula berbagai kategori pemimpin sesuai dengan paham paham yang berkembang di suatu kawasan wilayah. Semisal di vatikan yang dipimpin oleh seorang paus yang masih syarat dengan unsur religius berbasis pada pemimpin agama tertinggi yang merupakan wakil dari Tuhan dibumi, Semisal Sri Sultan HB X yang merupakan seorang sultan di wilayah yang oleh rakyatnya di sebut Ngayogyakartahadiningrat yang selain memangku jabatan simbolik cultural sebagai seorang sultan, ia juga sebagai pemegang jabatan fungsionaris sebagai seorang gubernur yang merupakan pemimpin tertinggi secara administratif di wilayah yang oleh masyarakat dunia mengenalnya dengan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nusantara adalah Negara kepulauan yang dikenal oleh dunia sebagai bangsa yang penuh dengan keberagaman kultur dan budaya. Nusantara adalah sebuah sebutan dari wilayah kerajaan majapahit dulu yang merupakan cikal bakal berdirinya Negara Republik Indonesia atau yang lebih akrab disebut Negara Indonesia. Indonesia terdiri atas 5 pulau besar dan beribu pulau kecil. Ditengah keberagaman cultural dari berbagai latar belakang suku bangsa Indonesia dapat bersatu dengan semboyan yang diadopsi dari jaman majapahit dulu yaitu Bhineka Tunggal Ika (berbeda beda tetapi satu). Keberagaman yang ada di Indonesia bukan hanya sangat banyak tetapi sangat kompleks dan meliputi berbagai stratifikasi kelas sosial. Hal ini bisa dilihat dengan maraknya petikaian antar suku bangsa seperti yang terjadi di kalimantan antara suku asli yang disebut suku dayak dengan suku bangsa Madura yang menjadi pendatang di tanah kalimantan. Kemudian pertikaian antar agama yang terjadi di ambon dan poso. Belum lagi pertikaian antara penduduk lokal papua dengan para kontraktor tambang Freeport yang merasa tanah mereka dijarah dan di jajah sumberdayanya dengan menyisakan limbah kepada mereka penduduk asli. Sederatan pertikaian yang terjadi di berbagai belahan wilayah Indonesia ini bisa mewakili betapa beragamnya unsur unsur pembentuk Negara Indonesia. Belum lagi seiring berjalannya waktu dan berbagai paham paham baru yang mulai berekspansi masuk ke  Negara Indonesia sehingga turut menyumbang betapa beragamnya Indonesia dengan ideology yang dianut oleh masyarakat tanpa menafikkannya.

Keberagaman yang kompleks inilah yang menimbulkan pertanyaan fundamental mengenai sosok pemimpin Negara Indonesia. Indonesia telah beberapa kali mengalami pergantian pemimpin dari sang Proklamator beralih ke suatu rezim orde baru kemudian beralih kepada pemimpin yang berasal dari kaum intelektual kemudian beralih lagi kepada pemimpin dari kaum agamis hingga kepada pemimpin yang berasal dari golongan politik. Kemudian muncul lagi pertanyaan pemimpin ideal untuk Negara Indonesia tercinta. Kita bisa melihat betapa sang Proklamator yang sempat menyihir seluruh bangsa Indonesia dengan kemampuan retoris, wibawa, dan visionernya tetapi harus lengser walaupun beliau sempat didaulat untuk menjadi presiden seumur hidup. Kemudian berganti kepada pemimpin yang oleh sebagian kalangan menganggapnya sebagai seorang yang tangan besi hingga setiap keputusan hanya ada satu di Negara Indonesia dengan minimnya pergolakan tetapi harus lengser oleh rakyaknya sendiri. kemudian mahkota kepemimpinan Negara Indonesia ini kembali beralih kepada seorang ilmuwan yang tentunya pada saat itu atau bisa dibilang sampai sekarang Negara kita begitu mengagung-agungkan intelektual hingga sistem akademisnya sangat berat sebelah tanpa terlalu memikirkan sisi moralitas kembali lengser setelah berbagai pihak menuding kepemimpinannya memiliki banyak nilai merah. Kemudian kembali lagi Negara Indonesia dipimpin oleh seorang ulama islam yang tentunya diharapkan bisa menjadi imam bagi Negara yang mayoritas memeluk agama islam kembali lengser dari jabatannya karena dinilai terlalu “kontroversional”. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah bangsa ini harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang berasal dari berbagai latar belakang. Tentunya setiap orang akan beragumen hal itu adalah mustahil atau bisa anda sebut sebagai omong kosong.

Pemimpin ditengah keberagaman Indonesia adalah seorang sosok yang masih menjadi pencarian dari seluruh warga Indonesia yang menginginkan kepentingan dan aspirasinya diwadahi. Tetapi apakah bisa seorang pemimpin paling banter berasal dari tidak lebih dari 3 latar belakang bisa mengakomodir keberagaman Indonesia yang kompleks. Dari situlah kita bisa mengambil kata kunci bahwa bangsa kita adalah bangsa penuntut yang bermimpi disiang bolong jika menginginkan seorang pemimpin dengan jiwa malaikat. Pemimpin ditengah keberagaman Indonesia bisa kita ambil suatu gambaran laksana seorang yang berdiri dikelilingi oleh lingkaran masyarakat yang fungsinya bukan orang yang ditengahnya yang melindungi tetapi masyarakat yang mengelilinginyalah yang melindungi. Istilah pemimpin adalah pelayan bagi umat memang tidak sepenuhnya salah ataupun tidak sepenuhnya benar. Filosifis pelayan adalah memberikan yang terbaik yang ia bisa bukan memberikan yang terbaik menurut tuntutan setiap orang. Dan filosifis dilayani adalah masyarakat juga yang harus membantu pemimpin dalam setiap kebijakannya. Bisa kita lihat betapa sulitnya bahkan bagaikan mengangkat gunung oleh seseorang jika pemimpin yang melayani masyarakat tanpa adanya dukungan dari masyarakat. Tentunya beban itu harus bertambah jika setiap masyarakat masih bersifat egoistik terhadap latarberlakang keragamannya dan terus menuntut tanpa ada kontribusi semisal betapa gilanya seorang pengungjung restoran yang telah menikmati hidangan yang disajikan kemudian pergi tanpa membayar ataupun ia datang dan duduk diam tanpa mengemukakan keinginannya berharap pelayan restoran mengetahui keinginannya. Semua kembali kepada kata Indonesia yang mewakili makna rakyat. Pemimpin ditengah keberagaman Indonesia, pemimpin ditengah keberagaman rakyat yang intinya adanya kompromi antara dua belah pihak tanpa harus mengorbankan pemimpin sedangkan rakyatnya memikirkan kepentingannya pribadi ataupun pemimpin yang merasa harus dilayani masyarakat.

Pemimpin

Pemimpin

Iklan

Perihal At-Thulab
simple

One Response to PEMIMPIN DI TENGAH KEBERAGAMAN INDONESIA

  1. Ya, semoga para pemimpin di Indonesia memiliki kesadaran tentang amanah yang mereka jalani sekarang sebaga “Costumer Service” bagi rakyatnya. Memiliki keinginan untuk membawa negeri kita lebih maju karena Allah. Semoga Allah memberikan kekuatan bagi kita yang berjihad di jalan-Nya. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: