MARHABAN YAA RAMADHAN


Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang.

MARHABAN YAA RAMADHAN

Marhaban yaa ramadhan, inilah perkataan yang selalu di tunjukan untuk menyambut bulan yang penuh barokah. Berbeda penggunaannya dengan kata ahlan wa sahlan yang juga sering digunakan untuk menyambut dengan arti yang sama yaitu selamat datang. Para ulama tidak menggunakan kata ahlan wa sahlan untuk menyambut ramadhan melainkan kata marhaban yaa ramadhan.

Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti “keluarga” sedangkan sahlan terambil dari kata sahl yang berarti “mudah” juga berarti sebuah “dataran rendah” yang jika dianalogikan akan mudah untuk melewatinya disbanding dataran tinggi. Jadi selamat datang dari kata ini tersirat makna bahwa penyambutannya bersifat kekeluargaan dan kemudahan hingga yang disambut akan dengan mudah menjadi bagian dari penyambut.

Sedangkan untuk kata marhaban berasal dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang” sehingga dalam menyambut tamu keadaan penyambut telah lapang dimana dia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut tamu dengan lapang dada, riang gembira seakan akan tamu tersebut akan dilayani dengan selapang lapangnya.

Marhaban yaa ramadhan. Bulan dimana pintu-pintu surga dibuka dengan selebar-lebarnya dan pintu-pintu neraka dikunci dengan serapat-rapatnya. Bulan penuh barokah yang di dalamnya terdapat satu malam yang penuh kemulian dan keberkahan yang lebih baik dari malam seribu bulan. Bulan dimana Al-Qur’an diturunkan dilangit dunia. Dalam menyambut tamu yang diberkahi oleh Allah SWT tersebut akan lebih baiknya kita mempersiapkan terlebih dahulu diri kita dengan pemahaman tentang hakekat diperintahkan kita untuk berpuasa sebelum pada kaidah kaidah berpuasa tersebut akan tetapi kedua hal tersebut tetaplah penting. Pemahaman tersebut sangatlah penting guna memberikan isi dari aktivitas yang kita lakukan. Dalil yang paling dasar atas perintah berpuasa di bulan ramadhan adalah yang dijabarkan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 183.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah: 183)

” Telah bersabda Rasulullah saw. : Islam didirikan di atas lima perkara : Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah. Mendirikan Shalat Mengeluarkan Zakat Shaum di bulan Ramadhan Menunaikan haji ke Ka’bah. (HR.Bukhary Muslim).

Pertama pada bulan ramadhan kita diperintahkan untuk berpuasa. Maknanya bukan sekedar menahan lapar dan haus karena terlalu sempit dan miskin pemahaman jika kita hanya bersandar pada dua hal itu dalam memahami bulan ramadhan. Ada banyak sekali maksud dari diperintahkannya kita untuk berpuasa di bulan suci ramadhan.

  • Menambahkan rasa kepedulian sosial

Inilah hikmah dianjurkannya kita berpuasa. Karena dengan berpuasa menahan lapar dan haus maka secara tidak langsung kita akan merasakan bagaimana penderitaan yang dialami oleh orang yang tidak mampu dari kaum miskin. Kita akan merasakan sendiri keadaan dimana betapa laparnya mereka sehingga dengan merasakan penderitaan orang tidak mampu maka kitapun akan muncul rasa simpati dan empati. Sifat tamak, rakus, dan kikir akan terkikis begitu seseorang merasakan langsung penderitaan orang miskin atau yang tidak mampu. Dan demikian akan memunculkan sifat dermawan pada diri seseorang hingga ia akan bersedekah, membayar zakat dan menyantuni anak yatim-piatu.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Rasulullah saw telah memfardhukan zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari perkataan keji dan untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat ‘ied, maka itu berarti shadaqah seperti shadaqah biasa ( bukan zakat fithrah ). ( H.R : Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni )

  • Melatih kesabaran dan pengontrolan emosi

Seseorang yang berpuasa akan dipupuk rasa kesabarannya, baik itu rasa sabar yang paling dasar tidak makan dan minum di siang hari sampai rasa sabar untuk tidak mendekati istrinya di siang hari. Di bulan ramadhan kesabaran kita akan ditempa, dimana selain kita harus sabar untuk menahan rasa marah, menahan nafsu makan, juga menahan nafsu birahi sekalipun pada istri yang secara syariat halal untuk kita campuri. Puasa akan mengurangi aktivitas hormonal yang secara ilmiah akan memunculkan nafsu syahwat, rasa marah, dan kemalasan akibat dari perut yang kenyang.

  • Meninggalkan kemaksiatan

Dengan berpuasa seseorang diharapkan untuk meninggalkan segala bentuk perbuatan maksiatnya. karena ketakwaan dan kemaksiatan sangat bertolak belakang. Inilah sebagian dari perintah “ agar kamu bertakwa” adalah agar pada  bulan ramadhan kita meninggalkan kemaksiatan.

  1. Menyucikan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT

“ sesungguhnya orang mukmin itu jika berbuat dosa maka terbentuklah titik hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkan dan beristigfar maka mengkilaplah hatinya. Dan jika menambah (dosa) maka bertambahlah (bintik hitamnya) sampai menutupi hatinya. Itulah ‘rain’ yang disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an.” (HR. Ahmad: 297). ‘rain’ yang dimaksud terdapat  pada Q.S Al-Mutaffifin ayat 14 “sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. Ketika berpuasa maka kita menghindari untuk berbuat dosa dan maksiat kepada Allah, kemudian kita beramal kebaikan dan beribadah kepada Allah SWT, maka amalan dan ibadah kita itulah yang perlahan-lahan akan membersihkan hati kita dari segala noda dosa dan maksiat.

Kemudian puasa adalah amalan ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah SWT. Sebagaimana yang diungkapkan dalam hadist qudsi “ diterima dari Abu Hurairah ra. Katanya Rasulullah SAW. Bersabda, “Allah berfirman, “ Setiap amal anak adam adalah untuk anak adam itu sendiri, melainkan puasa. (HR. Bukhari : 935) sehingga dengan begitu kita akan semakin dekat dengan Allah SWT. Ketaatan merupakan salah satu bentuk kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya.

  • Melatih kejujuran, dan sikap ihsan

Sesungguhnya dalam puasa terkandung nilai nilai kejujuran dimana ibadah puasa yang kita lakukan hanya kita dan Allah-lah yang mengetahuinya. Seseorang bisa saja secara sembunyi-sembunyi membatalkan puasa dengan kata lain makan atau minum tanpa diketahui orang terdekatnya sekalipun akan tetapi seorang hamba yang telah tertanam dalam dirinya nilai-nilai kejujuran dan ihsan pastilah tidak akan berbuat demikian. Oleh karena itu ibadah puasa ramadhan juga merupakan sarana untuk melatih kejujuran dan sikap ihsan pada diri kita.

Kemudian dalam puasa ramadhan kita dilarang untuk berkata bohong hal ini merupakan bentuk pelatihan massive dari menanamkan nilai-nilai kejujuran. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist. “ Diterima dari Abu Hurairah ra. Katanya Rasulullah SAW. bersabda,” Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan amal jahat, maka Allah tidak butuh kepadanya ia meninggalkan makan dan minum (Sahih bukhari : 934).

  • Sebagai sarana persiapan diri untuk sebelas bulan berikutnya.

Seperti dijabarkan diatas mengenai pemahaman akan manfaat diperintahkannya kita berpuasa di bulan ramadhan sebenarnya masih banyak lagi manfaat lain yang tidak terjabarkan. Namun jika kita mengambil ibrah, menjalankan dengan penuh pemahaman dan cara yang benar dari perintah untuk berpuasa selama sebulan maka selain kita akan mendapatkan pahala yang berlipatganda, kemuliaan, dan barokah juga kita akan mendapatkan manfaatnya selama sebelas bulan berikutnya. Karena perilaku kita lebih terkontrol karena hasil dari mengontrol diri selama sebulan di bulan ramadhan tentunya harus disertai dengan niat dan kemauan.

Disamping beberapa makna dari berpuasa di bulan ramadhan. Bulan ramadhan ramadhan yang penuh barokah juga dianjurkan untuk mengisinya dengan berbagai amalan amalan kebaikan dan ibadah lain seperti

  1. Memperbanyak bersedekah dan membayar zakat fitrah
  2. Memfokuskan diri untuk membaca Al-Qur’an
  3. Memperbanyak sholat malam

Sekarang kita mulai masuk ke pembahasan tentang ramadhan. Pertama untuk menentukan awal bulan ramadhan umat muslim menggunakan 2 cara yaitu

  1. Dengan hilal (melihat penampakan bulan 1 ramadhan)
  2. Dengan hisab atau perhitungan

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. shaum dan memerintahkan semua orang agar berpuasa.” ( H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).( Hadits Shahih)

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah berpuasa karena melihat ru’yah dan berbukalah (akhirilah shaum Ramadhan ) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. “( HR. Bukhary Muslim).

Sehingga untuk menetapkannya bisa dari (penjelasan umum)

  1. Karena kemajuan teknologi sehingga kita bisa mengikut perhitungan yang dilakukan oleh pemerintah sebagai pemegang amanah umat.
  2. Jika bulan sabit (hilal) telah tampak oleh 2 orang saksi dewasa atau lebih yang dapat dipercaya, berakal dan mengerti tentang perkara hilal maka mulailah kita berpuasa dan apabila bulan tertutup oleh awan maka genapkanlah bulan sya’ban menjadi 30 hari.

Pembahasan berikutnya adalah mengenai rukun-rukun dalam berpuasa ramadhan.

  • Berniat pada malamnya

Berbeda dengan puasa sunah lainnya, puasa ramadhan harus diniatkan pada malamnya. Jika tidak maka puasa kita tidak terhitung. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. : Barangsiapa yang tidak beniat ( shaum Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya .” (HR. Abu Dawud) (Hadits Shahih). Kemudian dikuatkan dengan hadist lain. “Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan.” ( H.R Bukhary dan Muslim).

  • Menahan dari makan, minum, dan jima’ dengan istri dimulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Seperti puasa pada umumnya yang dalam rukunya terdapat larangan makan dan minum. Bal ini berdasarkan hadist.

“Adiy bin Hatim berkata : Ketika turun ayat ; artinya (…hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam.. al ayat.) (Q.S Al-Baqarah: 187), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benanag putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). ” ( H.R. Bukhary )

Kemudian untuk larangan jima’ yang termasuk rukun dari berpuasa ramadhan bersumber pada dalil ayat Al-Qur’an Q.S Al-Baqarah ayat 187. “ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan member maaf kepadamu…al ayat. (Q.S Al-Baqarah: 187)

Kemudian siapa saja yang diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa ramadhan. Tentunya diwajibkan bagi seluruh orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan yang sudah dewasa dan masih berakal sehat. Orang gila tidak diwajibkan karena telah gugur kewajiban syar’i-nya. Sedangkan anak anak belum mendapat kewajiban syar’i. berdasarkan dalil “Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata : Sesungguhnya nabi saw telah bersabda : telah diangkat pena ( kewajiban syar’i/ taklif) dari tiga golongan . – Dari orang gila sehingga dia sembuh – dari orang tidur sehingga bangun – dari anak-anak sampai ia ia bermimpi / dewasa.” ( H.R.Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Orang yang dilarang untuk berpuasa ramadhan

Yaitu wanita yang haidh hingga habis masa haidnya, dan wajib mengqada (mengganti) puasa diluar bulan ramadhan. Seperti yang tertera dalam hadist Rasulullah. “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang shaum dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha Shalat “( HR. Bukhary )

Berbeda dengan penjelasan diatas yaitu dilarang, maka pada penjelasan (umum) kali ini akan dijabarkan orang orang yang diberikan keringanan untuk tidak melaksanakan seluruh atau sebagian bulan, dari berpuasa ramadhan tetapi tetap wajib mengqadanya (mengganti) di bulan lain.

  • Orang mukmin yang diberikan keringanan tetapi wajib mengqadhanya (mengganti) di hari lain.
  1. Orang sakit yang masih ada harapan sembuh. Jika ia berpuasa maka dikhawatirkan akan menunda kesembuhannya ataupun malah memperparah penyakitnya.
  2. Orang yang bepergian ( Musafir ). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan berpuasa dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk berpuasa. Seperti dijelaskan dalam hadist. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata : Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang berpuasa dan diantara kami ada yang berbuka . Yang berpuasa tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu berpuasa, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik “( HR. Ahmad & Muslim)
  • Orang mukmin yang diberikan keringanan, tidak wajib mengqadhanya (mengganti) di lain waktu tetapi wajib membayar fidyah yang dikarenakan ketidakmampuan.
  1. Orang tua (sangat tua) yang sudah lemah (sangat lemah) untuk berpuasa
  2. Wanita yang sedang mengandung dan khawatir akan kesehatan diri dan janinnya
  3. Wanita yang sedang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya
  4. Sakit menahun yang tidak memiliki harapan sembuh
  5. Pekerja berat yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, tidak mampu berpuasa karena tuntutan pekerjaan yang sangat berat hingga jika ia memaksakan akan membahayakan jiwanya/ tidak mungkin mampu dikerjakan sambil berpuasa dan tidak mendapatkan pekerjaan ringan.

Berikut dalil dalil yang menjelaskan tentang penjabaran diatas.

“Diriwayatkan dari Mu’adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk berpuasa, maka DIA turunkan ayat ( dalam surat Al-Baqarah : 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau berpuasa dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain ( Al-Baqarah : 185), maka ditetapkanlah kewajiban berpuasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah ( keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu berpuasa.” ( HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi dengan sanad shahih).

“Ucapan Ibnu Abbas: wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak berpuasa dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin” ( HR. Abu Dawud ).

“Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya ( tentang puasa Ramadhan ), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia menjawab : Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha puasa .” ( HR. Baihaqi)

“Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata : Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika berpuasa Ramadhan. berkata : Keduanya boleh berbuka ( tidak berpuasa )dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha puasa” ( HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syarat Muslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).

Kemudian masuklah kita ke pembahasan mengenai hal hal yang membatalkan puasa

  1. Secara sadar dan sengaja makan dan minum di siang hari diantara setelah terbit fajar hingga sebelum terbenamnya matahari. Sedangkan yang terlupa bahwa ia sedang berpuasa maka puasanya tidak batal. Hal ini dijabarkan dalam hadist “Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan berpuasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum” (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama’ah kecuali An-Nasai).
  2. Mensengajakan untuk muntah. Kecuali jika seseorang muntah secara tidak sengaja

Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang berpuasa – maka tidak wajib qadha ( puasanya tetap sah ), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha ( puasanya batal ). ( HR : Abu Daud dan At-Tirmidziy )

  1. Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka atau pada malamnya tidak berniat untuk berpuasa

Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk berpuasa ( Ramadhan ) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya. ( HR : Abu Daud )

Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat ………Al hadist ( HR : Al-Bukhary dan Muslim )

  1. Menyetubuhi istri di siang hari dengan sengaja di bulan Ramadhan. Maka ia juga mendapatkan hukuman disamping puasanya yang batal. Hukumannya berupa memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.
  2. Haid bagi wanita sebelum masuk waktu berbuka.

Kemudian akan dijabarkan beberapa hal yang diperbolehkan untuk dikerjakan waktu beribadah puasa.

  1. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas sedangkan untuk menyelam di dalam kolam sebagian ulama berpendapat dapat membatalkan karena air dapat masuk melalui pori-pori tubuh dan dapat menghilangkan rasa haus sedangkan untuk menyiram air keatas kepala pada siang hari dikarenakan hanya untuk menyegarkan diri agar kembali konsentrasi/ tidak hilang kesadaran karena kepanasan. Berikut dalilnya Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan berpuasa karena haus dan karena udara panas.( HR :Ahmad, Malik dan Abu Daud )
  2. Berbekam pada siang hari

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan berpuasa. ( HR : Al-Bukhary ) .

  • Menta’khirkan mandi junub setelah adzan Subuh

Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Subuh sedang beliau sedang dalam keadaan berpuasa, kemudian mandi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

  • Beristinsyak ( menghirup air kedalam hidung ) saat berwudhu asalkan airnya tidak sampai k tenggorokan.

Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Apabila kamu beristinsyaaq ( menghisap air ke hidung ) keraskan kecuali kamu dalam keadaan berpuasa. ( HR : Ashhabus Sunan )

  • Mencium, memeluk, dan tidur bersama istri di siang hari tanpa menggauli dengan syarat tidak muncul syahwat (nafsu birahi).

Diterima dari Aisyah ra. Katanya Nabi SAW. Pernah menciumnya dan sama tidur dengan dia, padahal beliau puasa. Dan beliau adalah orang yang paling sanggup menguasai nafsu birahinya.

  • Mencicipi makanan asal tidak ditelan.

Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang berpuasa mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya ( Ahmad dan Al-Bukhary ).

Kemudian berikut beberapa adab adab dalam berpuasa ramadhan yang disandarkan pada hadist hadist shahih dan hasan.

  1. Adab berbuka
  2. Menyegerakan berbuka  (berbuka bila tiba waktunya)
  3. Berbuka dengan makanan yang ringan terlebih dahulu seperti kurma dan air putih
  4. Apabila terlanjur dihidangkan makan malam pada saat berbuka maka makanlah terlebih dahulu sebelum shalat magrib
  5. Setelah berbuka maka berdoa dengan doa sbb yang artinya: Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah.

Berikut hadist-hadistnya

Diriwayatkan dari Sahal bin Saad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Manusia ( ummat Islam ) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim)


Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab ( kurma basah ) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk. ( H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem )

Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu berpuasa hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih. ( H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi )

Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah.( H.R: Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan )

Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu ( yang sudah terhidang ). ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

  1. Adab sahur
  2. Dilambatkan sampai akhir malam mendekati waktu subuh tetapi belum masuk waktu subuh.
  3. Apabila pada pada saat sahur (sedang makan dan minum) kita mendapati telah adzan maka teruskanlah sebelum jelas benang putih dari benang hitam ( jelas waktu fajar) maka berhentilah makan.

Berikut dalilnya

(…hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam.. al ayat.) (Q.S Al-Baqarah: 187)

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh). saya berkata : Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur dan waktu Shubuh)?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. ( HR : Al-Bukhary dan Muslim )

Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya ( makan/minum sahur ) daripadanya. (HR : Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem )

  • Memperbanyak bacaan Al-Qur’an

Hal ini didasarkan atas kebiasaan Rasulullah yang mengulang hapalan kepada malaikat Jibril as diriwayatkan oleh Fathimah RA., disebutkan sabda beliau (artinya), “…Sesungguhnya Jibril AS., mengetengahkan kepadaku al-Qur’an sekali setiap tahunnya, sedangkan tahun ini berlangsung dua kali.” (HR Al-Bukhary)

  • Memperbanyak shalat malam

Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka’at yang ringan, kemudian shalat delapan raka’at, kemudian shalat witir. ( H.R : Muslim )

Aisyah berkata lagi, “Bila memasuki al-‘Asyrul Awaakhir, Rasulullah SAW., menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya serta bersungguh-sungguh dan bergiat sekali.” (HR Muslim)

  • Melakukan shalat tarawih ( bila tidak memberatkan)

Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau ( bermakmum di belakang ), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian ( untuk mengimami shalat ) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. ( HR : Al-Bukhary dan Muslim )

  • Bersikap dermawan

dari Ibnu Abbas raldhiallahu ‘anhuma, ia berkata : “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan (HR: Bukhary dan Muslim)

  • Mempergiat ibadah pada 10 malam terakhir, beritikaf, dan menepati malam lailatur qadr.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda : Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. ( HR : Jama’ah )

Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. ( HR : Muslim )

Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda : Bacalah ( artinya ) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. ( HR : At-Tirmidzi dan Ahmad )

Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla. ( HR : Al-Bukhary dan Muslim )

Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila beri’tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia ( buang air, mandi dll… ) ( HR : Al-Bukhary dan Muslim ) (Bersambung)

Iklan

Perihal At-Thulab
simple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: