Si Gerbang Ilmu yang Dianugerahi Az-Zahra


Bismillah

Mungkin ini sekedar tulisan yang memotivasiku bukan untuk mendapatkan yang serupa dengan judul dari tulisan ini tetapi untuk berusaha menjadi insan yang memiliki cita cita yang luhur. Mungkin segala kekurangan belum bisa meraih apa yang di cita citakan akan tetapi suatu saat nanti aku yakin bahwa Sang Pencipta pasti akan memberikanku yang terbaik dan Az-Zahra yang kuimpikan.

Baiklah kita mulai dari mengenal siapakah si Gerbang Ilmu dan mengapa ia mendapatkan Julukan tersebut. Julukan ini diberikan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ali radhiyallahu ‘anhu. hal ini didasarkan dari Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan bahwa dirinya ibarat sebuah kota ilmu sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya ilmu. ada banyak sekali Riwayat yang menjelaskan tentang kepintaran Ali radhiyallahu ‘anhu. Tapi untuk sejenak akan saya jelaskan kepada para pembaca bahwa saya hanya mengambil beberapa kisah saja dan tentunya itupun akan sangat panjang untuk dijelaskan.

Saudaraku, saya akan memulia menceritakan kisah yang pertama. Maaf untuk bahasanya yang tidak baku, dan terkadang melanggar EYD karena saya masih dalam tahap belajar dan tentunya karena inilah blogku. Tempatku berekspresi dan berbagi ilmu.oh iya satu lagi direksi kata katanya memakai kata kata saya jadi akan ada perbedaan direksi perkataan dari riwayat yang asli cuma intinya sama ataupun jika riwayat tersebut masih diragukan oleh anda dan karena tidak saya cantumkan maka anda bisa mengambil manfaat dan hikmah dari riwayat tersebut.

Suatu hari berkumpullah sepuluh orang Khawarij. Mereka bermusyawarah untuk menguji tentang kebenaran dari julukan yang didapatkan oleh Ali radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah. mereka bersepakat untuk menanyakan suatu hal yang hal tersebut sama akan tetapi di tanyakan secara bergiliran. Mulailah orang pertama pergi menemui Ali radhiyallahu ‘anhu dan bertanya kepada Ali radhiyallahu ‘anhu.

Pertanyaan

hai, Ali. Manakah yang utama ilmu ataukah harta?

Jawaban

Tentu lebih utama ilmu. Ilmu adalah warisan dari para nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan dari Fir’aun, Qarun, Namrud dan lainnya.

orang pertama pergi dan datang orang kedua dengan perilaku yang sama dengan orang pertama

Pertanyaan

hai, Ali. Manakah yang utama ilmu ataukah harta?

Jawaban

Lebih utama ilmu daripada harta, karena ilmu akan menjagamu sedangkan harta malah sebaliknya dirimulah yang akan menjaga harta.

orang kedua pergi dan datang orang ketiga dengan perilaku yang sama dengan orang pertama

Pertanyaan

hai, Ali. Manakah yang utama ilmu ataukah harta?

Jawaban

Tentunya ilmu. Karena ilmu akan membuatmu dihormati dan disayangi sedangkan harta akan membuatmu sedangkan orang yang banyak harta akan memiliki banyak musuh karena kedengkian mereka terhadapmu.

orang ketiga pergi dan datang orang keempat dengan perilaku yang sama dengan orang pertama (maaf karena penulis malas menuliskan sesuatu yang intinya sebenarnya berulang)

Pertanyaan

hai, Ali. Manakah yang utama ilmu ataukah harta?

Jawaban

Ya, tentunya ilmu. karena hartamu akan berkurang ketika kamu pergunakan sedangkan ilmu akan terus bertambah ketika akan engkau pergunakan.

orang keempat pergi dan datang orang kelima dengan perilaku yang sama dengan orang pertama

hai, Ali. Manakah yang utama ilmu ataukah harta?

Jawaban

oh, tentunya Ilmu. karena harta kita bisa disebut pelit sedangkan kerena ilmu kita dihargai.

orang kelima pergi dan datang orang keenam dengan perilaku yang sama dengan orang pertama

hai, Ali. Manakah yang utama ilmu ataukah harta?

Jawaban

ilmu tentunya, harta akan senantiasa di jaga dari kejahatan sedangkan ilmu tidak perlu di jaga dari kejahatan justru ilmulah yang akan menjagamu dari kejahatan.

orang keenam pergi dan datang orang ketujuh dengan perilaku yang sama dengan orang pertama

hai, Ali. Manakah yang utama ilmu ataukah harta?

Jawaban

oh, ilmu pastinya. pemilik harta akan dihisab oleh Allah subhanahu wata’ala sedangkan pemilik ilmu akan di berikan syafaat oleh Allah subhanahu wata’ala.

orang ketujuh pergi dan datang orang kedelapan dengan perilaku yang sama dengan orang pertama

hai, Ali. Manakah yang utama ilmu ataukah harta?

Jawaban

tentunya ilmu. ilmu akan lestari sedangkan Maal (harta) akan habis.

orang kedelapan pergi dan datang orang kesembilan dengan perilaku yang sama dengan orang pertama

hai, Ali. Manakah yang utama ilmu ataukah harta?

Jawaban

tentunya ilmu. orang yang kaya akan ilmu akan dianggap sebagai pemikir sedangkan orang yang kaya akan harta hanya akan dianggap karena hartanya giliran hartanya habis maka apakah ia masih di anggap.

orang kesembilan pergi dan datang orang kesepuluh dengan perilaku yang sama dengan orang pertama

hai, Ali. Manakah yang utama ilmu ataukah harta?

Jawaban

tentu dan yang terpenting yaitu ilmu. Ilmu dapat memberikanmu ketenangan hati dan jiwa, derajat yang dinaikkan baik di dunia dan di akhirat. sedangkan harta hanya akan membuatmu gelisah dengan keberadaannya yang akan membuat hatimu menjadi keras.

menyadari dirinya sedang diuji oleh kesepuluh orang tersebut maka Ali radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang yang kesepuluh. ” Andaikata engkau mendatangkan semua orang untuk bertanya, Insya Allah akan ku jawab dengan jawaban yang berbeda beda pula, jika aku masih hidup . mendengar pernyataan tersebut akhirnya kesepuluh orang tersebut percaya akan luasnya ilmu dari Ali radhiyallahu ‘anhu yang menyebabkan dirinya di juluki gerbang ilmu oleh Rasulullah.

Istirahat dulu  sejenak saudara sebelum melanjutkan tulisan ini hingga sesuai dengan judulnya.

Ali ra

Ali radhiyallahu ‘anhu

Kemudian siapakah Az-Zahra. Jika anda pemuda muslim maka kata ini tidak asing bagi antum. karena dialah salah satu wanita idaman yang hidup pada jaman Rasulullah. Jangan sedih kawan karena ada juga cermin cermin dari Az-Zahra yang hidup di jaman. Saudaraku, jika kita memiliki keinginan yang sama untuk mendapatkan anugerah dari cermin cermin Az-Zahra maka marilah kita menjadi cermin-cermin dari Ali radhiyallahu ‘anhu atau jika antum ingin cermin dari Aisyah maka kita harus menjadi cermin dari yang dianugerahi Aisyah (Ummul mu’minin). Kembali ke topik saudaraku. Az-Zahra adalah sebutan yang diberikan kepada Fatimah binti Muhammad karena wajahnya yang selalu berseri. Ia tumbuh menjadi wanita yang sabar dan penyayang. Saya rasa cukup deskripsinya biar antum mencari deskripsi dari fatimah dari sumber lain (karena aku tidak mau membayangkan Az-Zahra yang ada dalam pikiranku saat ini karena aku takut membuat cemburu Sang Pemberi rasa cinta). Selanjutnya akan lebih sering saya pakai kata Az-Zahra

Fatimah

Az-Zahra

saudaraku kisah antara Ali radhiyallahu ‘anhu dengan Az-Zahra merupakan salah satu kisah teladan yang harus dicontoh oleh kita sebagai seorang muslim, Walaupun jujur aku belum bisa sepenuhnya mencontoh. Kemudian kisah ini bukanlah kisah roman picisan yang mendayu dayu karena jauh dari segala jenis nafsu syahwat dan terlalu mulia untuk disamakan. Pada saat Az-Zahra sudah dewasa maka datanglah Lamaran dari seorang yang kedudukannya paling dekat dan paling akrab dengan Rasulullah. lelaki yang paling dipercaya dan mempercayai Rasulullah hingga dia diberi gelar Ash-Shidiq. Dialah Abu Bakar Ash-Shidiq.

Kontan Ali radhiyallahu ‘anhumerasakan suatu cobaan yang berat ( isi hati seseorang siapa yang tahu tapi ini didasarkan dari asumsi saya yang menempatkan diri saya sebagai Ali radhiyallahu ‘anhu dalam hal bagaimana perasaan dan tindakannya, tapi tidak untuk menyamakan saya dengan Ali radhiyallahu ‘anhu ), Persaudaraan dan Cinta. Dalam islam jika seorang saudara semuslim telah lebih dulu melakukan muamalah maka kita tidak bisa mendahuluinya.Inilah sahabat yang utama yang lamarannya mungkin saja akan diterima oleh Rasulullah karena kedekatannya dari awal islam dibawa oleh Rasulullah. Bila di tilik dari perbedaan antara Abu bakar radhiyallahu ‘anhu dan Ali radhiyallahu ‘anhu maka kita dapat melihat dari riwayat dimana pada saat akan hijrah Rasulullah lebih mempercayai Abu bakar radhiyallahu ‘anhu sebagai partner perjalanannya sedangkan Ali ra hanya dipercaya sebagai pengganti Rasulullah yang tidur di ranjangnnya untuk mengelabui kaum Quraisy yang hendak membunuh Rasulullah.

Bila di dilihat dari segi kekayaan maka akan terlihat perbedaan yang jauh antara Abu bakar yang sebagai seorang bangsawan yang memiliki harta yang dengan hartanya ia banyak memerdekakan para sahabat yang mulia seperti Bilal bin rabbah, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud. sedangkan Ali radhiyallahu ‘anhu yang miskin harta, siapakah yang hendak ia merdekakan?

belum di tambah dengan pergerakan Abu bakar radhiyallahu ‘anhu yang mengajak Ustman bin Affan, Abdurrahman ibn Auf, Thalhah, Zubair, dan Sa’ad Ibn abi waqqash yang hampir seluruhnya mendapat jaminan dari Rasulullah masuk surga sedangkan Ali radhiyallahu ‘anhu kecil belum bisa berbuat banyak.

Inilah Persaudaraan dan cinta, mengapa di katakan persaudaraan dan cinta karena mungkin aku (penulis) melihat dari keadaan bahwa persaudaraan yang harus di dahulukan demi kebahagian seseorang yang di cintai. lagipula sebagai seorang muslim bahwa kita mencintai seseorang karena kecintaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala.

waktu berlalu, setiap insan pastilah telah tertulis pada dirinya apa yang telah menjadi ketentuan Yang Maha Kuasa, secercah harapan kembali hidup, ketika kebijaksanaan Rasulullah yang menolak lamaran Abu bakar bukan karena tindakan Rasulullah yang tidak beralasan, dan penulispun kembali semangat melanjutkan kembali cerita ini.

Setiap insan pastilah diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Kembali datang lamaran yang di tunjukkan kepada Az-Zahra. Lamaran ini datang dari seseorang yang sangat perkasa, yang karena kedatangannya dalam islam menjadi sebab terangnya islam hingga setiap muslim menjadi berani dengan keislamannya pada saat itu, yang karenanya setanpun takut berhadapan dengannya, yang menjadi salah satu dari doa Rasulullah yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala, yang karenanya hingga bumi palestina tertaklukan, yang karena perilakunya hingga ia di juluki Al- Faruq.

Dialah Umar ibn Al Khaththab (yang selanjutnya di tuliskan Umar radhiyallahu ‘anhu oleh penulis)

Dialah Umar radhiyallahu ‘anhu yang ketika akan berhijrah saja ia tidak melakukannya dengan sembunyi-sembunyi akan tetapi ia dengan gagah berani melakukan thawaf 7 kali terlebih dahulu mengelilingi ka’bah kemudian dia naik keatas ka’bah sambil berseru “hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah”. ” Barangsiapa yang menginginkan istrinya menjanda, anaknya menjadi yatim, ibunya berkabung tanpa henti ( karena pada saat itu anak laki laki sangat berharga di banding anak perempuan menurut pemikiran jahiliyah), silahkan hadang umar dibalik bukit ini”. kemudian ia hijrah pada saat mentari menyinari bumi jazirah arab. coba bandingkan dengan Ali radhiyallahu ‘anhu yang melakukan hijrah dengan sembunyi sembunyi pada malam hari karena takut di hadang oleh pengadang yang akan membunuh siapa saja yang hijrah. Umar memang pemberani dan hanya Hamzah yang menandingi keberaniannya pada saat itu. belum lagi dengan sabda Rasulullah yang membuat Umar ra menjadi utama di mata Ali radhiyallahu ‘anhu adalah karena Ali radhiyallahu ‘anhu sendiri yang mendengarkan betapa seringnya Rasulullah berkata “aku datang bersama Abu bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu bakar dan Umar, dan aku masuk bersama Abu bakar dan Umar”  ( ini bukan untuk membanding bandingkan dan sebagai penulis saya menjauhi hal tersebut walaupun sedikit mengidolakan Ali radhiyallahu ‘anhu)

kembali Ali radhiyallahu ‘anhu mendahulukan persaudaraan dan cinta karena kecintaannya kepada aturan yang telah di gariskan oleh Allah subhanahu wata’ala. ( Penulis kembali berimaginasi dengan membayangkan bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu  pada saat itu mungkin sebagai mahasiswa dan Umar radhiyallahu ‘anhu sudah menjadi seorang yang sukses dan terpandang ).

kembali ke topik. Tiba tiba datang kabar yang sangat mengagetkan. Dua sahabat utama dengan berbagai kelebihan lamarannya di tolak oleh Rasulullah. Aku terheran heran. Ali radhiyallahu ‘anhu pun terheran heran. Menantu yang seperti apakah yang dikehendaki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Az-Zahra. ini bukan lagi tingkatanku. Ali radhiyallahu ‘anhu pun mungkin merasa bahwa hal ini bukan tingkatannya dan ia telah jauh dari standar yang dikehendaki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Terpikir olehku bahwa Rasulullah juga memiliki menantu Ustman bin Affan sang Milyarder yang menikahi Ruqayah binti Muhammad. Satu yang menjadi pikiranku dan satu itu pula yang menjadi pikiran Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa “aku belum mempunyai apa apa

sekarang bangun dari lamunanmu saudaraku, sekarang giliran pemuda muslim yang bergerak, dengan berbagai pertimbangan yang tidak aku ketahui (pastinya). Ali radhiyallahu ‘anhu memberanikan diri menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berbagai kekurangan yang dirasakannya. Dengan malu malu Ali radhiyallahu ‘anhu menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dengan Ahlaq yang mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyambut kedatangan keluarga dan sahabatnya tersebut.

Rasulullah mendahului bertanya kepada Ali radhiyallahu ‘anhu: ” Hai Ali nampaknya engkau memiliki keperluan, katakanlah apa yang ada dalam pikiranmu, apapun yang engkau perlukan insyaAllah akan engkau peroleh dariku!”. pernyataan itu menambah keberanian Ali radhiyallahu ‘anhu mengutarakan perasaan yang sangat sulit diutarakannya. maka Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Maafkanlah ya Rasulullah, Anda telah mengambilku dari paman anda Abu Thalib dan bibi anda Fatimah binti Asad dikala aku masih kanak kanak dan belum banyak mengerti. Sesungguhnya Allah memberikanku hidayah melalui anda dan andalah tempat aku bernaung dan menjadi wasilahku di dunia dan di akhirat. Setelah Allah subhanahu wata’ala membesarkanku dan sekarang aku telah dewasa. Aku ingin berumah tangga dengan seorang isteri dan sekarang aku menghadap untuk melamar puteri anda, Fatimah. Ya, Rasulullah apakah engkau berkenan menikahkanku dengan dirinya? ”

saat itu wajah Rasulullah berseri seri dan sambil tersenyum beliau berkata: ” Ahlan wa sahlan ”

Demikian kisah dari orang orang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia. Maaf saya tidak melanjutkan ceritanya karena itu sudah berkenaan dengan urusan persiapan pernikahan (munakahat) yang oleh pribadi  penulis belum bisa menyiapkan. karena itu saya akan melanjutkan kisahnya setelah saya selesai kuliah S1 dan mendapatkan pekerjaan hingga saya bisa melamar Az-Zahra.

terima kasih

semangka 🙂

Alhamdulillah.

Iklan

Perihal At-Thulab
simple

3 Responses to Si Gerbang Ilmu yang Dianugerahi Az-Zahra

  1. nisa says:

    sepertinya ada tulisan yang salah ketik

    “tentunya ilmu. ilmu akan lestari sedangkan amal akan habis.”

    mungkin yg d maksud “maal” bukan “amal”.. bener gak?

    cekidot>> http://annisa2me.wordpress.com/2010/05/27/hukum-menyingkat-penulisan-shalawat-dengan%C2%A0%E2%80%98saw%E2%80%99/

    o i y.. mm.. antum itu bukannya dah jamak ya?
    kalo “antum-antum sekalian”? 🙂
    tapi isinya aq kasi jempol..

    • arifdjuwarno says:

      terima kasih atas bantuan anda (saudari nisa). semoga di berikan balasan yang baik atas bantuannya.

  2. reza says:

    wah,,,hati kerasa PLONG setelah baca blog kakak,,,,,

    mantab bgd kak,,,,

    mudah2an amal2 kk diterima Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: